Perang agama

Harapan agar umat Islam menjadi umat yang moderat (Umatan Wasathon) bertolak dari surat Al Baqaroh ayat 143. Walaupun satu kali disebut dalam Al Qur’an , namun memiliki makna yang paling strategis dalam menata kehidupan ummat ini. Apalagi dalam kehidupan dunia global ini yang penuh dengan multi pemikiran dan multi etnis, agama dan cultural. Ummat Islam yang benar adalah ummat yang moderat, tapi moderat yang berprinsip. Seorang moderat bukan hanya sebagai pengamat, tetapi harus ikut dalam menata kehidupan ummat ini.
Sepanjang sejarah selama hampir satu abad, muhammadiyah tampaknya tetap istiqomah dalam bersikap: moderat, modern dan terbuka. Bahkan di zaman kolonial, Muhammadiyah tidak pernah secara terang-terang menampakkan sikap radikalnya melawan penjajahan. Sebagai organisasi sosial keagamaan dengan misi utama untuk mencerdaskan otak dan mencerahkan batin manusia, Muhammadiyah adalah gerakan Islam dengan strategi perjuangan jangka panjang. Sekali ia memilih radikalisme sebagai metode, maka hampir dapat dipastikan bahwa usianya tidak akan melebihi “ setahun jagung.” Itulah sebabnya Muhammadiyah mengutuk semua bentuk terorisme, sisi ekstem dari radikalisme, sebagai sesuatu yang biadab, keji dan kejam. Tulisan singkat ini ingin memusatkan perhatian kepada pencarian alas dn pokok mengapa Muhammadiyah tidak pernah tampil sebagai gerakan Islam radikal. Radikalisme agama sebagai hara-kiri peradaban
Dalam perjalanan sejarah peradaban manusia, radikalisme agama pada umumnya berujung dengan kegagalan, apalagi jika filosofi yang digunakan adalah kebencian dan fanatisme. Belajar dari pengalaman itu, disamping pemahamannya terhadap Al-Quran, maka Muhammadiyah berketetapah hati untuk tidak menyimpang dari filosofi dasarnya sebagai kekuatan Islam moderat tetapi berprinsip, sekalipun sementara sebagian kecil orang menilainya sebagai sebuah kelambanan dan ketegasan. Tuduhan-tuduhan semacam ini sering saya dengar, bahkan kami dari Muhammadiyah pernah diajak oleh para pemimpin gerakan radikal untuk bergabung dengan mereka, dan Muhammadiyah diminta berdiri paling depan. Sudah tentu ajakan semacam itu adalah ajakan sia-sia, karena Muhammadiyah jauh lebih dewasa dan matang dibandingkan dengan mereka yang baru berumur “setahun jagung” itu.
Bagi Muhammadiyah, menempuh jalan radikal sama maknanya dengan hara-kiri, suatu perbuatan yang hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang sesak nafas karena tidak berani hidup secara bermakna. Pada hal Al Qur’an itu sangat pro pada kehidupan, Jadi Muhammadiyah tidak mau diajak pada tindakan bunuh diri tersebut. Cara berpikir radikalisme itu adalah cara berpikir yang pengecut.
Kematian lebih mereka pilih ditimbang kehidupan. Saya khawatir bahwa radikalisme atas nama agama adalah sebagai pertanda pengecut dalam menghadapi kehidupan yang bergerak dan bergulir dengan sangat cepat serta menawarkan berbagi tantangan yang memang tidak sederhana.
Saya menilai Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang pantang menyerah kapada keadaan, sekalipun situasinya sudah demikian ruwet, kritis dan berbahaya. Oleh sebab itu Muhammadiyah memilih semboyan: “ Berani hidup, bukan berani mati.” Bahwa kematian pasti akan datang, tak seorang pun yang dapat menafikannya. Jadi tidak perlu dikejar-kejar dengan segala bentuk radikalisme. Dengan filsafat sosial yang diwujudkan dalam amal shaleh, Muhammadiyah mengajak semua pihak agar menggunakan akal sehat dan mata batin untuk bersama-sama menciptakan corak kehidupan yang cerah dan ramah, terbuka, dan lapang dada, bukan kehidupan yang gelap, tertutup, dan bengis. Bukankah Islam itu berarti damai dan sejahtera? Pendukung radikalisme agama tampaknya tidak punya modal untuk menawarkan perdamaian dan kesejahteraan itu. Nafas yang sesak karena berbagai hamtaman sejarah yang datang bertubi-tubi telah menempatkan sebagian Muslim dalam posisi bengis tetapi tak berdaya.Oleh karena itu mereka menempuh jalan pintas berupa self-defeating ( menghancurkan diri sendiri) atas nama agama yang dipahami dalam suasana jiwa yang sangat rentan dan tertekan.

Akar pokok radikalisme dan solusi yang mungkin ditawarkan
Pada dataran global, radikalisme agama yang muncul di kalangan umat Islam, akar pokoknya dapat ditelusuri pada nasib rakyat Palestina yang dizalimi oleh Israel dengan payungnya Amerika Serikat. Menurut Chandra Muzaffar, sekarang Amerika harus mengubah politik Timur Tengah secara tulus dengan mendukung “ terbentuknya sebuah negara Palestina merdeka, berdaulat dengan Jerusalem Timur sebagai ibu kotanya.” Amerika sebagai pemenang Perang Dingin sebenarnya sedang berada pada posisi sangat strategis untuk menyalamatkan peradaban manusia dengan syarat adanya kemauan untuk mengembangkan sebuah kultur kearifan global ( a culture of global wisdom ). Tetapi ini tidak terjadi karena politik luar negirinya yang sangat pro-Israel hingga mata dan hatinya menjadi tertutup untuk berfikir jernih dalam menangani masalah-masalah dunia, khususnya masalah Palestina.
Sebab lain dapat pula dicari pada kondisi bangsa Arab yang tercabik-cabik dan sering dijadikan permainan oleh negara-negara besar. Tengoklah misalnya, invasi terhadap Iraq belum lama ini. Muhammad Abu-Kazleh, penulis asal Yordania, mengungkapkan rasa dukanya:
“ Dalam pertemuan puncak terakhir sebelum invasi Amerika-Inggris ke Iraq, terjadilah suatu peristiwa yang memalukan. Sekalipun adanya tantangan kuat terhadap perang dikalangan negeri-negeri Barat sendiri, pemimpim-pemimpim Arab telah gagal mencapai perseteruan agar tidak memberikan fasilitas kepada pasukan Amerika. Sebagian pemimpin (Arab) bahkan secara diam-diam membantu invasi itu dan membiarkan Iraq memikul segala resiko.”
Saya setuju bahwa Amerika di bawah Bush hari ini adlah sangat biadab, tetapi cara untuk menghadapinya tidak boleh dengan cara-cara radikalisme. Jangan melawan radikalisme dengan radikalisme. Apalgi secara militeristik dan ekonomi Amerika jauh lebih kuat. Bush saya sandingkan dengan Jengis Khan.
Panorama sikap gamang negeri-negeri Arab ini berkali-kali terjadi dalam sejarah mereka yang tengah kehilangan jati dirinya. Persamaan agama, bahasa, pengalaman sejarah, lingkungan geografis, dan sumber-sumber alam yang kaya tampaknya sudah tak berdaya untuk mendekatkan hati pemimpin-pemimpin Arab itu, justru untuk kepentingan masa depan mereka sendiri. Oleh sebab itu disamping menyalahkan pihak lain, mereka, atau pun kita semua, juga harus secara jujur mau menengok proses pembusukan dari dalam yang sudah lama menggerogoti élan vital kita sebagai umat Islam dengan jumlah besar tetapi kualitas pemimpinnya masih dibawah standar negeri-negeri maju.
Ada tiga macam terorisme, yaitu : terorisme yang dilakukan oleh perorangan, terorisme yang dilakukan oleh suatu kelompok, dan terorisme dalam bentuk negara. Amerika tergolong dalam terorisme negara. Mereka telah melakukan 67 kali intervensi terhadap negara lain dan telah menelan 12 juta orang. Jadi ada negara yang melindungi terorisme itu.
Dengan demikian, menghilangkan radikalisme di kalangan umat Islam akan tetap sulit selama dua kondisi si atas: masalah Pelestina dan ketidaksediaan kita berkacadiri, tidak terpecahkan dalam tempo yang dekat ini. Sebagian umat pasti menempuh jalan pintas, mungkin dalam bentuk terorisme, sebagai indikator dari keputusasaan yang tak tertertanggungkan. Muhammadiyah dengan segala keterbatasannya telah berupaya sampai batas-batas yang jauh untuk menjaga dan mengingatkan para pengikutnya agar tidak pernah larut dalam keputusasaan dan tidak terlibat dalam berbagai tindakan kekerasan dan kebiadaban itu. Apalagi sebagai orang-orang beriman kepada pertolongan Allah, emosi harus tetap dikendalikan oleh kekuatan akal sehat. Peringatan ini sudah kita lakukan berkali-kali, terutama sejak tragedi 11 September, tragedi Bali, dan tragedi Marriot beberapa waktu yang lalu. Tentang tragedi Bali misalnya, PP Muhammadiyah pada 14Oktober 2002 dengan ungkapan tegas antara lain menyatakan :

1. Mengecam keras [tindakan biadab itu ] dan menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya kepada para korban pengeboman di Legian Kuta Bali .
2. Apa pun motif dan siapa pun pelakunya , peristiwa pengeboman tersebut merupakan tindakan yang tidak beradab dan bertentangan dengan nilai-nilai agama serta nilai kemanusiaan universal.
3. Mendesak kepada pihak kepolisian agar mengusut kasus tersebut secara tuntas dan objektif untuk kemudian menyeret pelakunya ke pengadilan.

Kemudian, seperti telah kita ikuti bersama, dunia menyaksikan proses penangkapan terhadap para pelaku tragedi dan proses hukum di Bali telah berjalan dengan baik, sehingga citra polisi menjadi terangkat karenanya. Mudah-mudahan citra yang sudah agak membaik ini jangan lagi dirusak oleh kebiasaan polisi dalam melakukan tindakan salah prosedur dalam menangkapi pihak-pihak lain tanpa bukti yang kuat dan otentik. Masyarakat sudah sangat lelah dalam menghadapi persoalan hidup sehari-hari hingga keamanan harus benar-benar dirasakan oleh semua lapisan orang.

Penutup
Radikalisme dalam jangka panjang hanya akan menjadi iklan yang buruk bagi agama yang dinilai suci oleh para pengikutnya. Umat Islam adalah diantara yang paling rentan terhadap godaan radikalisme karena posisi mereka yang masih berada di buritan peradaban. Posisi buritan dapat mendorong orang untuk menempuh jalan pintas dalam mencapai tujuan, tetapi dalam jangka panjang pasti akan berujung dengan penderitaan, penyesalan dan kegagalan. Yang repotnya kadang-kadang adalah bahwa “ umat Islam di tuntut untuk memerangi terorisme, tetapi pada waktu yang sama sekaligus dituduh sebagai teroris.” Sebagaimana cendekiawan moderat dari Lebanon, DR. Muhammad Sammak, menyatakan baru-baru ini di Aachen (Jerman). Islam adalah agama yang pro-keberhasilan, bukan pro-kegagalan. Muhammadiyah meminta semua pihak untuk sama-sama mengembangkan sikap arif kapan pun dan dimana pun kita berada.

~ oleh kevinleonard di/pada Maret 5, 2008.

Tinggalkan Balasan